Kitab Ruh Al-Mimbar: Kumpulan Buletin Jumat dari Betawi untuk Perjuangan Bangsa

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Pengurus Bidang Litbang KODI Provinsi DKI Jakarta

 

Kitab Ruh Al-Mimbar adalah kumpulan naskah khutbah Jumat-yang Formatnya dikenal saat ini dengan istilah Buletin Jumat-ditulis oleh KH Muhammad Ali Alhamidi Matraman dalam aksara Arab Melayu.

Dalam buku Database Orang Betawi terbitan Dinas Komunikasi, Informatika, dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta (Murni, 2012), yang saya merupakan salah seorang editornya, dijelaskan tentang sosoknya. KH Muhammad Ali Alhamidi dilahirkan di Kwitang, Jakarta Pusat,  pada tanggal 20 September 1909.  Keluarganya berasal dari Bogor, Jawa Barat.

KH Muhammad Ali Alhamidi adalah satu orang Betawi yang beruntung pada zamannya karena mengenyam pendidikan, bisa baca dan tulis. Sebab sensus pada tahun 1930,  di saat dia berusia 21 tahun, menunjukan bahwa wilayah Jakarta merupakan salah satu wilayah terbelakang dalam pendidikan umum.  Prosentasi melek-huruf di Batavia (11,9%) merupakan angka yang rendah bagi daerah  perkotaan. Sebagai contoh bandingkan dengan Bandung, yaitu 23,6%. Selain itu, mereka yang melek huruf hampir bisa dipastikan bukan orang Betawi.[1]

Untuk sanad keilmuan atau genealogi intelektualnya, beliau belajar agama kepada Abdullah Hasan, pendiri Persis.  Namun dari wawancara saya dengan  mantu dan ahli waris tidak disinggung bahwa dia belajar kepada Abdullah Hasan, tetapi kepada Syaikh Ahmad Surkati, yang merupakan salah satu sahabatnya.[2]

Menurut KH Saifuddin Amsir dan budayawan Ridwan Saidi, dia juga belajar agama kepada Habib Ali Kwitang. Tetapi, menurut keturunannya, seperti yang tercantum di dalam buku Database Orang Betawi, walau dia lahir di Kwitang, dia tidak belajar kepada Habib Ali Kwitang.

Saya sendiri berpegang kepada pendapat KH Saifuddin Amsir dan Ridwan Saidi bahwa KH Muhammad Ali Alhamidi berguru juga kepada Habib Ali Kwitang. Di dalam buku Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945) karya Zainul Milal Bizawie diceritakan tentang sosok KH Muhammad Ali Alhamidi, Matraman yang dekat dengan Habib Ali Kwitang selayaknya murid dengan guru.[3]

Menurut KH Saifuddin Amsir[4] bahwa KH Muhammad Ali Alhamidi pernah belajar dan menjadi murid Habib Ali Kwitang di Madrasah Unwanul Falah, Kwitang, yang didirikan oleh Habib Ali Al-Habsyi (Habib Ali Kwitang) pada tahun 1911. Madrasah Unwanun Falah banyak melahirkan ulama-ulama Betawi terkemuka, seperti KH Abdullah Syafi`i, KH Thohir Rohili, KH Zayadi Muhadjir, KH Ismailo Pendurenan, KH Muhammad Naim Cipete, KH Fathullah Harun, dan Mualim KH M Syafi`i Hadzami.  Termasuk juga KH Muhammad Ali Alhamidi.

Hal ini juga diperkuat oleh wawancara saya dengan H.  Ahmad Syaukani, Mantu ke-12,  umur 59 tahun, yang membantu pencetakan karya-karya KH Muhammad Ali Alhamidi dengan mesin stensil, bahwa KH Muhammad Ali Alhamidi belajar juga kepada Habib Ali Kwitang.[5]

Semasa hidupnya KH Muhammad Ali Alhamidi merupakan ulama yang produktif menulis. Beberapa karya tulisnya selain kitab ini adalah Godaan Setan, Jalan Hidup Muslim, Hidayatullah, Islam dan Perkawinan, Manasik Haji, Ruhul Mimbar, dan lain sebagainya. Semasa hidupnya, KH Muhammad Ali Alhamidi merupakan penulis produktif. Beberapa karya tulisnya adalah Godaan Setan, Jalan Hidup Muslim, Hidayatullah, Islam dan Perkawinan, Manasik Haji, Ruhul Mimbar dan lain sebagainya. Hampir semua karyanya diterbitkan oleh Penerbit Al-Ma’arif Bandung.

Karyanya yang berjudul Godaan Setan ia tulis di tahanan Departemen Kepolisian Kebayoran Baru Jakarta Selatan dari 28 Juni hingga 1 Agustus 1962. KH. Ali Alhamidi ditangkap di rumahnya di Matraman Dalam Jakarta Pusat oleh penguasa PKI saat itu dengan tuduhan yang tidak jelas. Ia ditahan karena difitnah bukan karena melakukan kesalahan. Ia pun ditahan oleh penguasa PKI selama 3 (tiga) bulan 10 hari. 2 bulan di Departemen Kepolisian Kebayoran Baru Jakarta Selatan dan 1 bulan di Rindam Condet Jakarta Timur. Tidak hanya KH. Ali Alhamidi, para murid-muridnya pun ditangkap oleh penguasa PKI dengan tuduhan yang tidak jelas.

Kendati dia disinyalir berpaham Persis,  tetapi banyak juga para ustadz dan ulama Betawi yang berfaham NU menjadikan kitab Ruhl Al-Mimbar dan karya-karyanya yang lain sebagai bahan referensi untuk berkhutbah. Bahkan karya-karyanya beredar hingga ke Sumatera dan Kalimantan.

Hampir semua karya tulis KH Muhammad Ali Alhamidi  diterbitkan oleh Penerbit Al-Ma’arif Bandung.Terkecuali di antaranya kitab Ruh Al-Mimbar. Kitab ini dia tulis sendiri dengan tulisan tangan,  kemudian dia cetak sendiri (karena punya alat cetak stensil sendiri) dan dijahit sendiri serta dipasarkan sendiri dengan jumlah yang sangat terbatas. Sampai hari ini, kitab Ruh Al-Mimbar belum dicetak ulang oleh penerbit lain.

Kitab Ruh Al-Mimbar karya KH Muhammad Ali Alhamidi yang ditulis tangan dengan aksara Arab Melayu yang terdiri atas 10 jilid dan dicetak di atas kertas buku (book paper). Book paper adalah jenis kertas yang bertekstur sedikit kasar cenderung halus, kekuningan, ringan dan tipis. Ketebalan kertas mulai 55 gsm,70, dan 90 gsm. Kertas ini kegunaannya khusus untuk buku yang sifat teks saja,karena untuk gambar kurang menghasilkan warna yang tajam karena warna kertasnya sendiri cenderung kekuningan. Ukuran kitab Ruh  Al-Mimbar setiap jilidnya adalah tinggi 20 cm dan lebar 15,5 cm.

Total halaman untuk  jilid 1 sampai jilid 5 dari kitab Ruh Al-Mimbar adalah 416 halaman yang penomorannya dilakukan secara bersambung (istimrar) dari jilid ke jilid yang berakhir pada halaman 416 di jilid 5. Untuk jilid 1, halamannya berjumlah 80 halaman (halaman 1 sampai dengan 80) ; jilid 2 berjumlah 79 (halaman 81 sampai dengan 160); jilid 3 berjumlah   95 halaman (halaman 161 sampai dengan 256); jilid 4 berjumlah 79 halaman (halaman 257 sampai dengan 336); jilid 5 berjumlah 79 halaman (halaman 337 sampai dengan 416).

Sedangkan total halaman untuk jilid 6 sampai jilid 10 dari kitab Ruh Al-Mimbar adalah 400 halaman yang penomoranny dilakukan secara bersambung dari jilid ke jilid yang berakhir pada halaman 400 di jilid 10. Untuk jilid 6, halamannya berjumlah 80 halaman (halaman 1 sampai dengan halaman 80); jilid 7 berjumlah 79 (halaman 81 sampai dengan 160); jilid 8 berjumlah 79 halaman (halaman 161 sampai dengan 240); jilid 9 berjumlah 79 halaman ( halaman 241 sampai dengan 320); dan jilid 10 berjumlah 79 halaman (halaman 321 sampai dengan 400). Total keseluruhan halaman kitab Ruhul Mimbar dari jilid 1 sampai dengan jilid 10 adalah 816 halaman.

 

Alasan dan Proses Penulisan Kitab

Di dalam muqaddimah Kitab Ruh Al-Mimbar Jilid 1 dijelaskan mengenai alasan KH Muhammad Ali Alhamidi menyusun kitab Ruh Al-Mimbar. Dia menjelaskan bahwa banyak khatib-khatib datang kepadanya, meminta dia membuat teks khutbah Jumat dan sebagainya dengan bahasa yang bisa dipahami oleh hadirin, yaitu bahasa Indonesia, dengan tidak mengurangi syarat rukunnya. Teks tersebut berisi penerangan agama dan nasehat. Supaya kaum Muslimin berpegang teguh dengan agamanya, meneguhkan tali persaudaraan, mengajak manusia berbuat kebaikan, mencegah daripada melakukan kejahatan dan lain-lainnya. Teks yang ditulis ini untuk dibacakan di masjid-masjid, di surau-surau, dan tempat-tempat tabligh dan pengajian (al-Hamidi, 1948: 3).

Permintaan yang sudah pada tempatnya itu, dia terima dengan baik. Lalu dia tuliskan beberapa khutbah seperti yang diminta. Mula-mula dia tulis beberapa lembar saja, tetapi oleh karena semakin banyak yang meminta, maka dia cetak banyak, supaya sewaktu-waktu ada yang meminta bisa dia berikan. Maka pada tanggal 1 Juli 1947, sebelum ”Aksi Militer”[6]  adalah permulaan sekali dia mencetak khutbah Jumat, yang kemudian dibagikan kepada khatib-khatib masjid.

Usahanya ini rupanya mendapat sambutan baik, lantaran khatib-khatib sepakat meminta dirinya meneruskan, menyusun dan menyiarkannya setiap minggu. Maka di Kota Jakarta saja dan sekitarnya, tidak kurang dari tiga ratus lembar khutbah Jumat yang dia sebarkan setiap minggunya. Lembaran teks khutbah ini dibacakan pada beberapa puluh masjid , dengan mendapat perhatian yang istimewa, karena isinya cocok dengan keadaan zaman. Sehingga pada  waktu dirinya menyusun kitab ini (Ruhul Mimbar) sudah lebih dari lima puluh nomor khutbah, ditambah dengan dua khutbah Idul Fihtri dan Idul Adha.

Atas permintaan beberapa alim ulama, kyai-kyai dan khatib-khatib, dia susun kembali khutbah-khutbah itu dari nomor satu dan seterusnya dengan sedikit perubahan di beberapa tempat, supaya bersifat ”istimrar”, yakni bisa dipakai untuk selama-lamanya. Maka, jadillah sebuah kitab khutbah yang tebal, yang dia namakan ”Ruh Al-Mimbar”, artinya jiwa mimbar (al-Hamidi, 1948: 4). Tidak lupa, dia mengucapkan terima kasih kepada alim ulama dan kyai-kyai yang telah menyokong dan membantu dengan iklhas sehingga kitab Ruh Al-Mimbar bisa diterbitkan pada bulan Desember 1948.

Menurut KH Saifuddin Amsir, Kitab Ruh Al-Mimbar ini awalnya memang lembaran tulisan untuk  khutbah Jumat yang ditulis oleh KH Muhammad Ali Alhamidi dan dijual per lembarnya. Banyak ulama dan muballigh di Betawi yang membeli lembaran  khutbah Jumat ini karena isinya menarik dan tidak bertentangan dengan paham Ahlussunnah Wal Jama`ah Asy-Syafi`iyyah. Karenanya, ketika lembaran khutbah Jumat ini juga dijual di Perguruan Asy-Syafi`iyyah yang dipimpin ketika itu oleh KH Abdullah Syafi`i.

Adapun masing-masing jilid di Kitab Ruh Al-Mimbar membahas topik yang berbeda-berbeda. Khusus topik keagamaan dan kebangsaan, dia tulis di jilid pertama di bab 10 sampai bab 12.

 

Kitab Ruh Al-Mimbar Jilid 1

Topik Pembahasan dan Situasi Sosial Politik Yang Melatarbelakangi

Pembahasan di jilid 1 dari kitab Ruh Al-Mimbar ada dua belas bab, yaitu bab pertama tentang amar ma`ruf nahi munkar; bab kedua tentang pengaruh masjid; bab ketiga tentang menolak kemusyrikan; bab keempat tentang mengatasi kesengsaraan; bab kelima tentang amal yang hidup; bab keenam tentang munkarat; bab ketujuh tentang pembela kemenangan; bab kedelapan tentang persaudaraan; bab kesembilan tentang penjara iman; bab kesepuluh tentang bangsa yang berjasa; bab kesebelas tentang kerugian bangsa/besar; dan bab kedua belas tentang bangsa yang mulia.

Peneliti secara khusus meneliti tentang jilid 1 ini karena dari 10 jilid kitab Ruh Al- Mimbar hanya pada jilid 1 terdapat tulisan yang secara eksplisit membahas tentang keagamaan dan kebangsaan, yang tidak ditemukan di jilid 2 sampai dengan jilid 10.

KH Muhammad Ali Alhamidi menjelaskan pada mukadimah jilid 1 ini bahwa ia menulis pertama kali lembaran di jilid dikarenakan situasi kondisi politik saat itu bangsa Indonesia akan dihadapi oleh agresi milter Belanda yang pertama. Maka, tulisan-tulisan pada jilid satu ini sangat diwarnai oleh semangat untuk merekatkan dan membangkitkan semangat kebangsaan yang dapat dibaca pada bab 10, bab 11 dan bab 12.

 

Bab 10: Bangsa Yang Berjasa

Pembahasan di bab ini diawali dengan doa puji-pujian, syahadat dan shalawat serta pesan taqwa.  Kemudian diulas bahwa tiga ratus tahun lebih kita menjadi umat dan bangsa yang mati, bangsa yang tidak berjasa. Bukan mati benar, tetapi mati hati dan perasaan, mati nama dan sebutan, tidak dikenal oleh dunia. Seakan-akan, kita tidak berbangsa dan bernegara.

Seorang terpelajar bangsa kita yang belajar di tanah Turki, pernah menceritakan keadaan umat Islam Indonesia kepada bangsa Turki. Agaklah herannya, mereka tak kala mendengar bahwa di Indonesia ada puluhan juta kaum Muslimin. Tetapi berkah petunjuk Allah yang telah mesra kedalam jiwa kita bahwa kita masih juga seperti manusia lainnya (yang tidak beragama Islam).  Kelebihan seseorang, sesuatu bangsa atau umat pada sisi Allah hanyalah lantaran baktinya kepada Allah, sadarlah kita dan tahu harga diri. Kemudian penulis mengutip beberapa ayat Al-Qur`an.

Bangsa yang berjasa, bangsa yang besar. adalah bangsa yang memperhatikan sejarah dirinya, dan sebagai bangsa dengan umat Islam berjumlah besar, hendaklah sejarah yang dijadikan rujukan adalah sejarah pada zaman Nabi Muhamamad SAW. Dan perlu diperhatian bahwa sejarah itu berulang. Sekarang, kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah. Berkacalah kepada sejarah bangsa-bangsa yang telah terpecah belah, bercerai-berai disebabkan oleh merebaknya fitnah.

Ringkasnya pada bab ini, menurut penulis, dalam segala hal kita harus hati-hati supaya kita tidak kena tipuan, agar kita tidak kembali menjadi bangsa yang mati, tidak berjasa. Mudah-mudahan segala penerangan ini menjadi pedoman bagi kita dalam menghadapi perjuangan yang akan menentukan nasib kita, nasib bangsa kita dan anak cucu kita turun temurun, supaya kekal abadi sampai akhir zaman, menjadi bangsa yang mulia dan terhormat, selaras dengan kedudukan kita menjadi manusia. Mudah-mudahan Allah tetapkan iman kita, dan tetap Ia melindungi kita, supaya dapat kita mengatasi segala ujian dan percobaan, dan diberikannya kepada kita tenaga dan kekuatan untuk membela kebenaran  dengan kebenaran pula.

 

Bab 11: Kerugian Bangsa/Kerugian Besar

Pada halaman isi bab ini ditulis dengan judul kerugian bangsa, namun di halaman pembahasan judulnya tertulis kerugian besar. Seperti bab sebelumnya, pembahasan di bab ini diawali dengan doa puji-pujian, syahadat dan shalawat serta pesan taqwa. Kemudian diulas tentang kerugian besar dengan mencantumkan beberapa surat dan ayat dari Al-Qur`an. Diulas juga bahwa kerugian ulama karena tidak berguna ilmunya, tetapi merusak agama dan merusak masyarakat muslimin. Kerugian orang-orang pintar kita karena tidak berguna bagi kaum dan bangsanya, tetapi menganiaya dan merusakan bangsa, memperdayakan bangsa, menjatuhkan bangsa dalam kesusahan dan kehinaan. Kerugian bangsa karena yang sebangsa tidak berguna kepada bangsanya, tetapi berbahaya.

 

Bab 12: Bangsa Yang Mulia

Pembahasan di bab ini diawali dengan doa puji-pujian, syahadat dan shalawat serta pesan taqwa.  Kemudian diulas  bahwa kesusahan, kekurangan, dan kesulitan yang kita alami dan hadapi sekarang ini sudah pula menimpa kepada bangsa kita yang hidup sebelum kita. Keadaan yang demikian ini tidak disukai oleh nafsu kita yang senantiasa ingin hendak dapat kesenangan dan kelapangan. Menghadapi semua itu janganlah kita lupa peringatan Allah di dalam Al-Qur`an, yang mengabarkan akibat sesuatu atau permulaan sesuatu tidak sama dengan awalnya atau dengan kesudahannya, terutama dalam perkara ujian. Perhatikanlah firman Allah (QS. Al-Insyirah ayat 5-8).

Kesimpulan dari pembahasan bab ini adalah bahwa bangsa yang mulia adalah yang memahami kesusahan, kekurangan dan kesulitan sebagai ujian dari Allah swt. Selain itu, tiap-tiap umat dari sebuah bangsa harus mempunyai sifat tertentu (sifat yang mulia), ulil amrinya juga memiliki sifat yang mulia, sehingga bangsa dan negaranya menjadi mulia.

Kesimpulan

            Kitab Ruh Al-Mimbar ditulis dalam format teks khutbah dimaksudkan agar dapat memberikan manfaat langsung kepada umat karena dapat dimanfaatkan oleh para khatib untuk khutbah jumat dan ceramah-ceramah mereka.

Topik keagamaan dan kebangsaan diangkat oleh KH Muhammad Ali Alhamidi dikarenakan pada saat dia menulis, dalam hal ini Kitab Ruh A-Mimbar Jilid 1, suasana keadaan bangsa Indonesia baru saja merdeka, rentan terpecah belah, apalagi adanya Agresi Militer Belanda Pertama. Karenanya tema-tema keagamaan dan kebangsaan yang ditulis oleh KH Muhammad Ali Alhamidi dalam ruang lingkup persatuan dan kesatuan bangsa untuk menyemangati umat, menumbuhkan semangat nasionalisme melalui khatib-khatib yang membacakan tulisan-tulisan dari pemikirannya tentang keagamaan dan kebangsaan dari atas mimbar.***

 

[1]Lance Castles, Profil Etnik Jakarta, Depok: Masup Jakarta, Tahun 2007, Cet. Ke-1, h.87.

[2]Wawancara pada hari Rabu, 4 April 2018 jam 10.30 sd 12.00 WIB dengan H.  Ahmad Syaukani, Mantu ke-12,  umur 59 tahun, yang membantu pencetakan karya-karya KH Muhammad Ali Alhamidi dengan mesin stensil dan wawancara dengan Hj Djannah Bari’ah anak ke-13, bungsu, umur 57 Tahun,  yang bertugas mengirimkan cetakan lembaran khutbah Jumat ke Kantor Pos Jatinegara untuk dikirim ke pelanggannya di Jawa,  Sumatera dan Kalimantan.

[3]Zainul Milal Bizawie, Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945), Ciputat: Pustaka Compass, Tahun 2016, Cet. Ke-2, h. 331. 

[4]Wawancara saya dengan KH Saifuddin Amsir di kediamannya,  Senin, 26 Maret 2018

[5]Wawancara saya  pada hari Rabu, 4 April 2018 dengan H.  Ahmad Syaukani

[6]Maksudnya Agresi Militer Belanda I, yaitu operasi militer Belanda di Jawa dan Sumatera terhadap Republik Indonesia yang dilaksanakan dari 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *