KODI Provinsi DKI Jakarta: Koordinasi untuk Dakwah Ibu Kota yang Berkualitas

Oleh: Mohammad Latif

Pengurus KODI Provinsi DKI Jakarta

 

Pendahuluan

Tantangan dan permasalahan dakwah semakin besar dan kompleks. Era reformasi dan demokratisasi telah membawa kepada pergulatan pemikiran yang semakin intens, khususnya tentang isu-isu nasional dan global seperti demokrasi, HAM, terorisme, lingkungan hidup, gender, pluralisme, liberalisme, kerukunan umat beragama dan lain sebagainya. Selain itu realitas kemiskinan, keterbelakangan, problem internal umat juga masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan.

Pesatnya pembangunan fisik harus seimbang dengan pembangunan mental spiritual dalam upaya pembangunan yang seutuhnya melalui kegiatan dakwah Islam. Di satu sisi beragamnya organisasi/lembaga dakwah yang ada adalah bentuk partisipasi umat  dalam menjalankan kewajiban ajaran agama sekaligus tanggung jawab masyarakat dalam pembangunan.

Dinamika aktivitas dakwah di Ibu Kota Jakarta yang sangat cepat, tentu harus mampu dikoordinasikan dengan baik dan selalu mendapatkan arahan kebijakan yang bisa mendinamisir langkah dakwah. Upaya koordinasi dan sinkronisasi tidak berarti menyamakan seluruh gerak dakwah, tapi bagaimana dakwah yang cenderung komunal itu mampu bergerak ke arah tujuan utama dakwah, tidak parsial dan dapat memberikan pelayanan dakwah secara menyeluruh kepada semua lapisan masyarakat.

KODI merupakan wadah kerja sama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan masyarakat dalam kegiatan dakwah Islam, sekaligus menjadi jembatan komunikasi, baik dalam menyalurkan aspirasi dakwah kepada Pemprov DKI, dan sebaliknya mampu mengkomunikasikan kebijakan pembangunan terhadap masyarakat.

Sebagai lembaga koordinatif, KODI melakukan aktifitas kajian dan perumusan kebijakan dakwah dan tempat musyawarah atas berbagai persoalan dakwah. KODI bukanlah lembaga yang bersifat praktis operasional, tapi lebih mengambil peran sebagai pendistribusi berbagai pemikiran dan kebijakan dakwah kepada masyarakat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

 

Dasar Hukum

KODI Provinsi DKI Jakarta berdiri berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. Cb.1/2/21 tahun 1969, dan keberadaannya saat ini telah disempurnakan melalui Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 43 Tahun 2016 tentang Lembaga Koordinasi Dakwah Islam (KODI) Provinsi DKI Jakarta.

Adapun kepengurusan periode saat ini didasarkan kepada Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 56 Tahun 2022 Tentang Pengangkatan Badan Pembina dan Badan Pengurus Lembaga Koordinasi Dakwah Islam Masa Tugas 2022 – 2026. Kepengurusan KODI terdiri dari Ketua (KH Jamaluddin Faisal Hasyim), Wakil Ketua (Drs. H. Djubaidi Adih), Sekretaris (Dr. Ahmad Zaki, M.Ag),, dan Bidang-Bidang, yakni Bidang Dakwah, Bidang Penelitian dan Pengembangan, serta Bidang Kelembagaan.

 

Tugas Pokok dan Fungsi

Sesuai dengan Pergub 43 Tahun 2016, Tugas Pokok KODI adalah melaksanakan koordinasi, sinkronisasi dan dinamisasi kegiatan dakwah di Ibukota Jakarta.

Adapun visi KODI adalah terwujudnya dakwah yang mampu mengisi pembangunan nilai-nilai spiritual dan berlangsung secara koordinatif dan kondusif. Visi ini kemudian dirumuskan lebih detil dalam misi lembaga yakni:

  1. Terciptanya kerjasama dan saling pengertian antara sesama lembaga dakwah dan antara lembaga dakwah dengan pemerintah melalui upaya koordinasi efektif dan berkelanjutan;
  2. Terciptanya sinergi dalam pelaksanaan dakwah dan adanya kesamaan wawasan diantara aparatur dakwah;
  3. Teraktualisasinya materi, metode dan kebijakan dakwah yang mampu menjawab permasalahan umat serta meningkatkan kualitas pelaku dakwah melalui langkah-langkah dinamisasi.

 

Strategi Program

Strategi program yang dikembankan KODI adalah:

  1. Meningkatkan efektifitas pelaksanaan koordinasi dakwah di Jakarta, melalui berbagai kegiatan koordinasi dan kemitraan.
  2. Meningkatkan dinamisasi wawasan dakwah melalui kegiatan kajian.
  3. Melaksanakan monitoring, analisis dan evaluasi pelaksanaan dakwah di Provinsi DKI Jakarta.
  4. Meningkatkan mutu kaderisasi muballigh melalui kegiatan evaluasi dan sarasehan.
  5. Meningkatkan kualitas dakwah melalui media cetak, elektronik, dan media lainnya.
  6. Menyiapkan pedoman dan materi dakwah sebagai referensi pelaksanaan kebiajakan dakwah.
  7. Mensosialisasikan informasi, wawasan, dan pesan seruan dakwah secara massif melalui berbagai penerbitan.

 

Program Unggulan

  1. Pendidikan Kader Muballigh
  2. Pembinaan Dakwah di Lingkungan Khusus (Rusun, RSUD, Lapas, dan Panti Sosial)
  3. Kemitraan dengan Forum Komunikasi Lembaga Dakwah (FKLD) dan Forum Musyawarah Lembaga Dakwah Pemuda Islam (FMLDPI) DKI Jakarta.
  4. Kemitraan dengan Forum Silaturahim Masjid-Masjid Perkatoran (Forsimpta).
  5. Kemitraan dengan Forum Musyawarah Lembaga Dakwah Pemuda Islam (FMLDPI) Provinsi DKI Jakarta.
  6. Kemitraan dengan Syiar Da’I Indonesia (Organisasi alumni PKM).
  7. Kajian problematika dakwah dalam bentuk seminar dan diskusi.
  8. Penelitian potensi dan permasalahan dakwah.
  9. Penerbitan dan publikasi informasi dan materi dakwah.
  10. Pelatihan dan workshop pengembangan mutu dai dan mubalig.

 

Implikasi Program

Kegiatan dakwah yang berlangsung di Ibukota Jakarta, baik yang dilaksanakan oleh masyarakat melalui ormas, lembaga dakwah maupun institusi pemerintahan cenderung terkoordinir dengan baik, sehingga terciptalah suatu dinamika pembinaan masyarakat yang saling melengkapi, berjalan beriringan dan tidak jarang terjadi sinergi program yang sangat kondusif. Koordinasi kegiatan dakwah tidaklah berarti kooptasi lembaga atas usaha dakwah, akan tetapi merupakan bentuk jaminan atas keberlangsungan dakwah itu sendiri.

Lewat koordinasi yang baik, akan tercipta hubungan yang harmonis dan kondusif di antara organisasi/lembaga dakwah yang ada dan antara organisasi/ lembaga dakwah dengan Pemerintah Provinsi dalam bidang kehidupan keagamaan, khususnya agama Islam. Kondisi ini tentu saja berakibat pula pada kecurigaan-kecurigaan yang pernah muncul di masa lalu, perlahan-lahan hilang.

Dakwah yang berorientasi pada amar ma`ruf nahi munkar diyakini akan mendorong terwujudnya kehidupan sosial kemasyarakatan yang sejuk dan damai. Hal ini dapat dilihat dari resistensi yang cukup besar masyarakat Jakarta terhadap sentimen-sentimen konflik, baik yang bernuansa SARA atau pun karena ekses politik. Heterogenitas masyarakat Jakarta dicermati sebagai sebuah proses alam menuju kehidupan bermasyarakat demokratis, bermartabat dan berkeadilan. Ini merupakan kebanggaan yang patut disyukuri, bahwa ternyata warga Jakarta sudah belajar tentang bagaimana hidup berbangsa yang baik, meski pun tidak menutup kemungkinan letupan konflik itu muncul. Memang semua itu tentunya tidak semata-mata hasil dari kegiatan dakwah saja, akan tetapi secara tidak langsung dakwah juga sangat berperan di dalamnya dalam membentuk kepribadian masyarakat yang ideal sebagaimana yang dituntukan oleh agama.

Selain itu bahwa kehidupan umat beragama di Jakarta bisa dikatakan berhasil dibangun menjadi sangat kondusif, toleran dan terbuka. hal ini didukung oleh keseriusan Pemprov. DKI Jakarta bersama masyarakat dalam menciptakan media-media dialog, baik antara intern umat seagama maupun antar umat beragama untuk membicarakan persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan dan meningkatkan kerukunan.

 

Penutup

Kegiatan dakwah di DKI Jakarta merupakan kegiatan sosial keagamaan yang dilaksanakan oleh institusi dakwah yang ada di Ibukota Jakarta. Keragaman institusi dakwah yang ada di Jakarta, ikut mempengaruhi strategi, model, dan sasaran dakwah, sebagai bentuk tanggungjawab sosial dalam membina kehidupan mental spiritual warga Jakarta.

Sebagai lembaga kerja sama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan masyarakat dalam kegiatan dakwah,  Koordinasi Dakwah Islam (KODI)) Provinsi DKI Jakarta berupaya untuk mampu mengatasi berbagai persoalan keagamaan yang terjadi di masyarakat, dan meningkatkan kerjasama sinergis antara Pemerintah dan masyarakat, khususnya terkait kebijakan pembangunan. Semoga apa yang telah dan yang akan dikerjakan oleh KODI merupakan langkah-langkah maju dalam pengembangan dakwah dan pembangunan masyarakat Jakarta. (latief)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *