Sejarah Panjang PKM: Kaderisasi Mubalig Oleh KODI

Oleh Mohammad Latif

Pengurus Bidang Litbang KODI Provinsi DKI Jakarta

Tidak terasa, penyelenggaraan pendidikan kader mubaligh KODI DKI Jakarta tahun 2022 sudah mencapai angkatan ke 29. Untuk sebuah lembaga pendidikan non formal keagamaan, hal ini sudah merupakan prestasi tersendiri. Sudah jamak, biasanya suatu kegiatan bermerk pembinaan agama yang melibatkan anak-anak muda di kota metropolitan sering tak berusia lama. Tidak seperti dunia entertain macam Indonesian Idol yang tidak pernah sepi penggemar.

Penyelenggaraan pendidikan kader mubaligh yang biasa disingkat PKM, merangsek di antara sekian banyak model kursus ketrampilan yang ditawarkan pada anak-anak muda. Sekolah singkat (short course) yang dianggap lebih menjanjikan memasuki lapangan kerja, seperti kursus bahasa Inggris, komputer, akuntansi, manajemen, dan sebagainya adalah yang banyak diserbu mereka. Namun PKM tidak beda dari yang ada, dan tidak untuk dipersaingkan dengan model pendidikan kedakwahan lain.

Kalau dibilang itu sebuah peluang mungkin benar adanya, yaitu adanya kekosongan pada generasi muda Islam, yang sejak lama menjadi perhatian KODI. Sebuah keprihatinan melihat sedikitnya jumlah da’i yang berusia muda atau da’i yang bisa membahasakan pesan-pesan agama ke dunia anak muda. Sementara kerusakan moral semakin melanda anak-anak muda. Terlebih lagi di kota Jakarta, mereka adalah kelompok manusia yang paling gampang dipengaruhi oleh budaya baru yang entah dari mana saja datangnya. Budaya baru tidak selalu membawa mereka kepada nilai-nilai yang menguntungkan bagi pembentukan kepribadiannya, bahkan malah bisa menggiring mereka kepada penyimpangan moral.

Jangan sampai generasi kita menjadi kelompok umat yang tanpa kendali. Terutama kendali moral. Bukankah masa depan bangsa dipertaruhkan nasibnya oleh generasi yang sekarang berusia antara 17 – 25 an tahun. Maka bila telah salah dalam mengisi otak dan mentalnya, maka akan salah pula dalam menjalankan roda pemerintahan. Sebagai sebuah contoh, dengan semaraknya budaya korupsi pada tiga dasawarsa pemerintah Indonesia belakangan ini, siapa yang harus dipersalahkan, kalau bukan akibat salah didik pada generasi mudanya saat itu. Pendidikan yang tidak menganggap serius masalah moral dan etika agama.

KODI sebagai lembaga yang salah satu tugasnya membantu Gubernur DKI dalam mendinamisasi dakwah, memandang perlu mengkader anak-anak muda untuk menjadi mubaligh. Secara praktis, arti mubaligh disini adalah  mereka yang berdakwah melalui ceramah, khutbah, pengajian, penerangan dan berbagai bentuk media lainnya. Diundang atau tidak diundang, seorang mubaligh memiliki kesiapan untuk menyampaikan pesan-pesan agama. Umat membutuhkan mubaligh dalam berbagai acara, seperti kuliah tujuh menit (kultum) sehabis shalat fardhu, kuliah shubuh (kulsub), mengiringi upacara perkawinan, khitanan, atau hajatan keluarga lainnya, diskusi interaktif, taklim, dan banyak lagi. Tujuan berdakwah adalah memupuk keimanan, akhlaq, dan pengetahuan agama-agama lain yang menjadi kebutuhan praktis para jamaah.

Mereka yang dikader melalui PKM diharapkan nantinya menjadi pengendali moral umat Islam di tengah hiruk-pikuk kehidupan ibukota. Masyarakat dengan lebel metropolitan, yang kini dihadapkan beragam masalah, terutama dengan semakin massifnya pemanfaatan teknologi komunikasi. Hubungan manusia satu sama lain semakin dekat. Terjadi kontak budaya antar bangsa yang juga sangat cepat dengan akibat sosial yang terlalu mahal, karena interaksi antar manusia dengan segala macam perilakunya semakin tidak mudah dikontrol.

Akibat lain adalah kecenderungan sekularisasi dalam kehidupan masyarakat. Sebuah proses dimana terjadi pemisahan antara aspek atau nilai  keagamaan dengan aspek hiburan, antara ‘tuntunan’ dengan ‘tontonan’, keduanya berjalan secara paralel tanpa ada hubungan satu dengan yang lain. Agama tidak selalu menjadi penuntun ketika seseorang menonton hiburan  atau acara spesial, khususnya telivisi. Mungkin sekali seseorang menerima informasi keagamaan melalui pengajian di luar rumah, nasehat-nasehat orang tua, nilai-nilai amar makruf nahi mungkar, tapi dari sisi lain mereka tetap menonton film kartun, sinetron, seni budaya yang intinya berisi amar munar nahi makruf.

Terpaan media informasi telah menjadikan masyarakat modern berada dalam hipermoralitas (hipermorality, yaitu pada situasi dimana nilai-nilai baik dan jelek bercampur dalam kehidupan sehari-hari. Suatu situasi dimana kriteria moral menjadi absurd (membingungkan). Walau harus diakui bahwa, penggunaan teknologi dan media informasi juga banyak aspek positifnya. Termasuk untuk kepentingan dakwah, akan membuka peluang untuk mengkomunikasikan pesan-pesan agama dalam waktu yang cepat dan massif.

Di tengah era seperti ini, tantangan besar dibidang dakwah adalah, bagaimana dakwah menjadi suatu gerakan yang memberdayakan kelompok warga yang potensial. Tentu siapa lagi kalau bukan anak-anak muda, karena bukan saja masa depannya masih panjang dan memiliki idealisme serta cita-cita yang tinggi. Mereka yang siap mengikuti pengkaderan dakwah berarti memiliki militansi dan keinginan kuat untuk menjadi pengendali moral masyarakat. Mereka yang dengan intelektualitasnya mampu mengolah situasi untuk menjadi ajang garapan dan strategi pengendalian tersebut. Dengan ketrampilan berdakwah, yakni berkemampuan mensosialisasikan dan atau mengkomunikasikan ajaran Islam secara tepat guna. Dengan militansinya, mereka bersedia berkorban, jiwa dan raganya untuk sesuatu yang dianggap benar dari Allah swt, mereka tidak kenal lelah dalam beramar makruf dan nahi munkar sehingga masyarakat terbebas dari situasi ketidakpastian moral  (indeterminancy of moral).

Tidak berlebihan kiranya kalau KODI mencetak kader mubaligh yang demikian itu. PKM yang merupakan produk asli KODI DKI Jakarta dengan persetujuan Gubernur DKI. Tepatnya mulai tahun 1991, saat Gubernur DKI dijabat oleh Suryadi Sudirja. Meski Ketetapan Gubernur sendiri baru keluar pada tahun 1993, dengan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 3035 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Kader Mubaligh (PKM). Pendidikan calon mubaligh ini tetap dipertahankan kelangsungannya pada masa Gubernur H. Sutiyoso, Gubernur H. Fauzi Bowo, hingga masa Gubernur H. Anis Baswedan.

Dimata Gubernur, program PKM merupakan penguatan program dinamisasi dakwah KODI DKI Jakarta. Pemda memandang kegiatan ini sebagai sesuatu yang seharusnya dilakukan. Sebagai lembaga yang melayani kepentingan masyarakat, tidak bisa dibiarkan masyarakat yang cuek terhadap situasi lingkungan.

Secara kultural, peran dan pelayanan KODI  dari tahun ke tahun terus berkembang, mengikuti perubahan sosial budaya masyarakat Jakarta. Penyelenggaraan pendidikan kader mubaligh dengan kurikulumnya yang terus berkembang mengindikasikan bahwa arus dinamika dakwah terus terjadi, sejalan dengan perkembangan kota metropolitan.

 

Profil Peserta  

Antuasiasme warga Jakarta untuk mengikuti pengkaderan mubaligh ditandai dengan besarnya peserta, terutama kalangan anak muda yang mengikuti PKM. Rata-rata 200 sampai 300 calon setiap tahunnya yang mendaftarkan diri mengikuti test masuk. Dengan sistem pembelajaran dan kurikulum yang diterapkan selama ini, boleh jadi PKM merupakan model pengkaderan yang mengundang daya tarik tersendiri.

Pada awalnya mahasiswa PKM merupakan wakil-wakil dari lembaga dakwah yang tergabung dalam Forum Komunikasi Lembaga Dakwah (FKLD). Asumsinya adalah lembaga-lembaga dakwah memang perlu kader baru untuk pelayanan dakwah di masyarakat. Pengkaderan diutamakan dari kalangan muda, agar proses regenerasi berjalan secara alami. Terlepas dari masalah regenerasi, pengkaderan mubaligh untuk kalangan anak muda, juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setiap saat. Alumni PKM diharapkan menjadi ujung tombak di lapangan, sekaligus mereka adalah kader yang diharapkan akan mengaktifkan lembaga-lembaga dakwah yang bersangkutan.

Dari angkatan ke angkatan, kepesertaan PKM terjadi pergeseran. Peserta tidak begitu terikat mewakili lembaga-lembaga dakwah anggota FKLD. Sesuai tuntutan masyarakat peminat,  PKM diharapkan boleh diikuti oleh siapa saja yang berminat. Kebijakanpun diambil, yakni PKM terbuka untuk umum, atau siapa saja yang berminat selama memenuhi syarat.

Dari pengalaman selama ini, latar belakang pendidikan peserta atau calon kader sendiri sangat heterogen. Sebagian berpendidikan S1, sebagian lagi tamatan SLTA atau Madrasah Aliyah, ada yang sedang menempuh program S2, ada yang pensiunan tentara/PNS, bahkan ada yang berstatus ibu rumah tangga. Pertanyaannya: Kenapa bisa begitu: apakah KODI tidak serius dalam menampung peserta; apakah panitia seleksi asal comot; apakah tidak banyak peminat sehingga yang diterima asal-asalan. Masih ada lagi pertanyaan: apa tidak ada standar rata-rata tingkat pendidikan?.

Ternyata bukan itu semua masalahnya. Daya tarik PKM tidak bisa diukur dengan standar kualifikasi formal, tetapi lebih kepada keinginan yang kuat atau kebutuhan sebagian kalangan anak muda Jakarta untuk memperoleh pengalaman dan kemampuan berdakwah. Mereka merasa terpanggil selaku muslim untuk melibatkan diri dalam dunia dakwah, sebagaimana Firman Allah swt:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. ( QS An Nahl [16]:125)

Meski tempat pendidikannya terletak jauh dari rumah tinggalnya, mereka bersedia datang mendaftarkan diri untuk mengikuti tes masuk. Tempat penyelenggaraan PKM angkatan ke-1 (tahun 1993) sampai angkatan ke-10 (tahun 2003)  bertempat di Gedung Gedung LBIQ, Jl. Awaludin II Tanah Abang Jakarta Pusat, karena di sanalah KODI waktu itu berkantor. pada angkatan ke-11 (tahun 2004) sampai angkatan ke-22 (tahun 2014) penyelenggaraan PKM bertempat di Jakarta Islamic Centre (JIC), Koja Jakarta Utara. Hal ini disebabkan kantor KODI sejak tahun 2003 pindah ke JIC. Pada tahun 2014 kantor KODI kembali pindah ke Gedung Graha Mental Spiritual di Jl Awaludin II Tanah Abang Jakarta, yang sebelumnya merupakan gedung LBIQ. Dengan demikian, maka penyelenggaraan PKM angkatan ke-23 hingga sekarang, bertempat di Gedung Graha Mental Spiritual, Tanah Abang Jakarta Pusat.

Para peserta PKM datang dari wilayah pusat, barat, selatan, timur, dan utara Kota Jakarta. Sebagian juga berasal dari kawasan Depok, Bekasi, Tangerang, bahkan Bogor. Mereka tidak peduli, bahwa sertifikat yang diperoleh dari PKM tidak bisa untuk memasuki lapangan kerja, karena memang bukan itu tujuan pendidikannya.

Persyaratan untuk diterima menjadi mahasiswa PKM, dalam arti lulus tes masuk meliputi: (a) kemampuan penguasaan pengetahuan agama dan wawasan dakwah, (b) kemampuan dasar berpidato, dan (c) kemampuan membaca al-Qur’an. Untuk yang pertama, bahan ujian diberikan secara tertulis, sedangkan untuk kemamapuan berpidato dan baca al-Qur’an, dilakukan dengan cara ujian lisan di depan tim penguji.

 

Proses Pembelajaran

Pendidikan kader mubaligh adalah lembaga pendidikan formal, namun tidak se “formal” lembaga pendidikan umumnya. Pelembagaannya tidak terakreditasi di bawah Depdiknas, dan tidak juga oleh Departemen Agama. Karena PKM hanya semacam training diklat kader yang tidak berjenjang, tapi berjangka panjang. Lama pendidikannya ditempuh selama delapan bulan. Kurikulum disusun sesuai dengan kebutuhaan bagi pengkaderan dakwah. Bagi peserta yang dinyatakan lulus pada ujian akhir, diberikan Akta atau Ijazah Mubaligh, yang menandai keabsahan yang bersangkutan sebagai mubaligh. Artinya, bagi pemegang akta, harus siap untuk berdakwah baik diundang maupun tidak oleh masyarakat. Bahkan ia harus berkomitmen untuk membimbing agama dalam bentuk apapun dan atau dengan cara apapun kepada masyarakat yang membutuhkan. Akta tidak untuk dipersoalkan masalah kesetaraan, atau akreditasi, karena kurikulum PKM ditata sedemikian rupa untuk satu capaian dibidang dakwah.

Tujuan yang dicanangkan dalam pembelajaran secara umum adalah untuk mendidik kader-kader mubaligh yang memiliki integritas kepribadian muslim dan mampu menyampaikan ajaran Islam ke tengah-tengah masyarakat dengan cara yang tepat serta bersifat mendidik. Secara khusus tujuannya adalah: memotivasi tumbuh kembangnya kemampuan dasar kader-kader mubaligh yang: (1) memiliki kemampuan mendalami dan mengembangkan penalaran mengenal ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan secara komprehensif; (2) Memiliki kemampuan mendalami dan mengembangkan penalaran mengenal berbagai teknik komunikasi keagamaan; (3) memiliki kemampuan menyampaikan ajaran Islam terutama melalui pendekatan tabligh; (4) memiliki kemampuan mengelola lembaga-lembaga keagamaan secara professional; (5) memiliki kemampuan mengadakan penelitian sederhana dan mengkaji masalah-masalah kehidupan umat serta mampu mengkomunikasikan berbagai persoalan umat melalui penulisan informasi dakwah.

Pendidikan kader mubaligh ditempuh selama delapan bulan. Mata kuliah disampaikan sebanyak dua kali pada setiap minggunya. Masing-masing selama 3 jam.

Proses pembelajaran disampaikan dengan model pendidikan orang dewasa (adult education). Karena semua peserta sudah berusia di atas 20 tahunan, bahkan ada yang berumur di kisaran 50 tahun. Sehingga tidak mungkin lagi diperlakukan seperti anak-anak. Paling banyak materi perkuliahan disampaikan melalui diskusi, ceramah dan penugasan. Dengan cara itu berarti terbuka komunikasi dua arah, dimana antara dosen dan mahasiswa sama-sama aktif.

Kegiatan pembelajaran terbagi ke dalam empat bagian. Pertama, penanaman pengetahuan keagamaan yang disebut Dirasah Islamiyah. Kedua, teori kedakwahan. Ketiga, praktek pidato. Keempat, penulisan informasi dakwah, dan Kelima,  pengenalan kehidupan umat.

Dirasah islamiyah, bertujuan menanamkan pengetahuan untuk meningkatkan pemahaman dan penalaran mengenai ajaran agama Islam. Mata kuliah yang masuk dalam kelompok ini meliputi: (a) Metode penafsiran al Qur’an; (b) Perkembangan Pemikiran Fiqh; dan (c) Perkembangan Pemikiran Islam.

Teori kedakwahan, bertujuan meningkatkan pemahaman dan penalaran permasalahan dakwah. Materi perkuliahan pada kelompok ini terdiri dari: Hakikat dan Filosofi Dakwah; Sejarah Dakwah Rasulullah; Sejarah Dakwah di Indonesia; Manajemen Dakwah; Psikologi Dakwah; Komunikasi Dakwah; Pengelolaan lembaga dakwah; Teknik Perencanaan Dakwah; manajemen Pers Dakwah, dan Dakwah pada Masyarakat Khusus. Mata kuliah ini diberikan dalam bentuk diskusi-diskusi intensif. Sementara dosen hanya memberikan pengetahuan yang bersifat mensimulasi, kemudian para mahasiswa berdiskusi untuk pendalaman materi tersebut.

Sementara itu pelatihan ketrampilan pidato dilakukan dalam bentuk pembelajaran: Retorika; Teknik membaca ayat suci dalam Tabligh; Adab dan Akhlak Mubaligh; Praktek Pidato, dan Keprotokolan/MC. Pada praktek pidato, peserta dibekali ketrampilan menyampaikan pesan agama dalam berbagai cara atau gaya. Menyadari bahwa masyarakat sebagai audien dakwah, sangat beragaman dan bertingkat-tingkat. Adakalanya berbeda dalam hal tingkat pendidikan, latar-belakang sosial ekonomi, lingkungan pergaulan dan sebagainya. Disadari pula bahwa, setiap pesan keagamaan adalah sesuatu yang mulia, dan kemuliaan diakui dan bisa diterima oleh masyarakat di segenap lapisan. Namun sesuatu yang baik dan indah belum tentu mampu diserap secara baik oleh audien. Karena tergantung cara bagaimana sang penceramah menyampaikan. Apabila pesan itu disampaikan dengan penuh retorika dan kebijakan, maka sejauh itu pula masyarakat bisa menyerap secara baik. Kadang suatu pesan sederhana lebih mudah diserap dibanding pesan yang terlalu idealis, tetapi sulit diserap. Masalahnya, terletak pada bagaimana cara penyampaiannya.

Pembelajaran berikutnya adalah pengenalan kehidupan umat. Tujuannya adalah mengapresiasi dan atau mendalami isu-isu kontemporer untuk dilihat dengan kacamata agama Islam. Dengan mengetahui isu-isu tersebut akan sangat membantu dalam pengayaan materi dakwah. Di antaranya adalah mengenai: Islam dan HAM; Islam dan Gender; Islam dan Politik; Islam dan Kebudayaan. Belakangan ditambah dengan materi perbandingan agama; dimaksudkan untuk penyadaran mengenai pluralitas masyarakat yang dibentuk oleh perbedaan agama. Bahwa Islam sebagai agama mayoritas, tidak untuk menguasai agama-agama non Islam. Tetapi Islam justru menunjukkan sebagai rahmatan lil’alamin. Materi perkuliahan tersebut sifatnya temporal. Maka pada setiap tahunnya, materi bisa berubah, tergantung dari pilihan isu yang dianggap strategis.

Masalah kedakwahan paling mendasar adalah bagaimana menyampaikan pesan-pesan suci agama itu secara tepat sasaran. Penyampaian dianggap tepat apabila bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Indikasi “dapat diterimanya” pesan itu adalah apabila bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat dan memberikan kemaslahatan baik diri maupun lingkungannya. Untuk menjamin penyampaian bisa tepat, tersedia metode-metode dakwah. Melalui sesi inilah, kepada peserta diperkenalkan banyak metode dakwah, mulai dari metode, khotbah, ceramah, diskusi, tanya-jawab, pengajian kelompok terbatas, pengajian akbar, dan sebagainya.

 

Capaian dan Evaluasi

Seperti lazimnya sebuah proses pembelajaran, dilakukan evaluasi hasil. Untuk mengetahui seberapa tingkat pengetahuan yang telah diperoleh oleh peserta kursus mengenai pengetahuan teori kedakwahan. Untuk masalah ketrampilan berdakwah, seberapa besar kemampuan peserta menyampaikan pesan melalui pidato atau ceramah. Dan seberapa luas wawasan peserta dalam melihat masalah dakwah.

Untuk mendapat gambaran hasil pembelajaran PKM. meskipun tidak semua mata kuliah diujikan di akhir masa pembelajaran, bisa dinilai hasil pencapaiannya. Maka mata kuliah yang diujikan: dilakukan bermacam cara. Pertama, ujian tertulis. Evaluasi tertulis dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kemampuan penyerapan mata kuliah yang berisfat pendalaman pengetahuan agama dan pengetahun lain yang relevan dengan masalah dakwah. Sesuai dengan perkuliahan yang sudah diberikan, mata kuliah yang diujikan meliputi: (1) Dirasah Ilamiyah; (2) Teori Dakwah Islamiyah; (3) Tabligh; dan (4) Wawasan Dakwah.

Kedua, praktek pidato yang dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kemampuan berceramah, diuji dengan cara setiap mahasiswa berpidato singkat di depan tim penguji. Kemampuan berorasi menjadi sangat penting dalam program PKM. Melalui praktek ini, ingin diketahui ketrampilan setiap peserta, bagaimana kemampuan mengkomunikasikan pesan-pesan keagamaannya kepada masyarakat. Mereka diuji satu persatu, dengan cara berceramah menyampaikan salah satu pesan agama di depan audien tertentu. Meski ceramah hanya di ruangan terbatas, masyarakat auiden dalam praktek pidato, dibuat “seolah-olah benar”. yang berbeda-beda. Setiap peserta memilih sendiri gambaran auudien itu, seperti: masyarakat kampus; masyarakat kampung padat penduduk, masyarakat elite, kumpulan anak muda, kumpulan ibu-ibu, kumpulan anak-anak, dan sebagainya. Pemilihan audien menentukan pemilihan tema ceramah, menentukan metode penyampaian dan retorika. Dari aspek-aspek itulah, penilaian terhadap peserta diberikan.

 

Evaluasi Dalam Arti Yang Sebenarnya.

Evaluasi secara formal, bukan akhir dari sebuah pembelajaran. Tetapi merupakan awal dari sebuah dari kerja besar untuk mensosialisasikan pesan-pesan keagamaan bagi kepentingan kemaslahatan warga bangsa. Kerja sebagai mubaligh berarti kerja untuk Allah, seperti disebutkan dalam al Qur’an, bahwa dengan bertabligh berarti menjadi penolong (agama) Allah, karena menebar iman dan pesan-pesan dari-Nya. Maka evaluasi pendidikan mubaligh dalam arti kata yang sebenarnya adalah:

  1. Bagaimana mereka, setiap individu merasa terpanggil secara terus-menerus dan berkewajiban moral membimbing masyarakat. Dalam keyakinannya, berdakwah adalah tugas suci atas panggilan Ilahi. Pengawasan yang sebenarnya atas pelaksanaan tugas suci itu adalah pengawasan dari Allah, yang diyakini dengan sebenar-benarnya, bakal selalu menuntut pada hamba-Nya yang suka menolong-Nya. Dan akan memberikan balasan berlipat ganda atas kebaikan menyampaikan pesan suci dari-Nya.
  2. Bagaimana mereka mengembangkan diri sendiri secara mandiri, pengetahuan dan wawasan keagamaanya. Karena materi yang diberikan pada masa perkuliahan, tidak mungkin ditanamkan secara tuntas atau mendalam. Pengetahuan yang disampaikan hanya bersifat global dan menyangkut isu yang terbatas. Maka pendalaman diserahkan kepada masing-masing. Disini dituntut kesadaran untuk meningkatkan kemampuan penguasaan ilmu, setidaknya menjangkau pesan-pesan agama praktis yang dibutuhkan masyarakat. Dan dalam hal menempa ketrampilan berdakwah dilakukan dengan sebanyak mungkin melakukan dakwah serta mengevaluasi tentang apa-apa yang harus diperbaiki.
  3. Pembentukan keluarga besar alumni PKM, sebagai perwujudan kebersamaan untuk mengusung semangat berdakwah. Alumni PKM sejak berdirinya, sudah lebih dari seribu orang. Adalah satu cara untuk secara bersama berkoordinasi dan mendinamisasi kegiatan dakwahnya. Alhamdulilah pada tahun 2019 telah terbentuk Syiar Dai Indonesia, sebagai organisasi alumni PKM.
  4. Variasi dakwah. Mengikuti trend dinamika para alumni berkiprah di masyarakat, mereka memainkan peran dakwah dalam berbagai bentuk. Dengan missi menyampaikan pesan-pesan agama, peran itu dilakukan melalui media massa, media eloktronik, pensejahteraan umat dan santunan sosial kemanusiaan. Kegiatan yang mengindikasikan adanya bahasa dakwah yakni bahasa tindakan. Meski juga belum optima, tetapi mereka telah merintis pola kegiatan yang lebih implemtatif.

Maka evaluasi pengkaderan dakwah dalam arti yang sebenarnya adalah sejauh mana para alumni PKM telah melakukan aktivitas kedakwahan; seperti apa saja semangat kedakwahan itu diimplemantasikan; dan seberapa besar masyarakat memperoleh manfaat dari kegiatan mereka itu.

 

Penutup   

Jakarta sebagai kota yang sarat dengan indikator modern menjadi pusat pengambilan keputusan dalam pembangunan masyarakat Indonesia. Dan telah bergerak pula menjadi pusat perdagangan yang menggerakkan ekonomi masyarakatnya di berbagai sektor. Berkembang pula menjadi pusat budaya, pusat wisata, pengembangan ilmu pengetahuan, seni dan arsitektur.

Arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, telah merubah secara cepat gaya hidup penduduk Jakarta menjadi masyarakat metropolis. Pesatnya perkembangan masyarakat ke arah metropolis, Jakarta sebagaimana kota metropolitan lain di dunia, menghadapi banyak tantangan. Gejala ke arah itu telah muncul sejak tahun 70an. Di antaranya ditandai dengan menyusutnya sumber-sumber energi, perobahan organisasi-organisasi keluarga (household composition), perubahan gaya hidup (life style), kesadaran akan keterbatasan sumber daya alam dan lingkungan, serta perubahan dalam komposisi industri untuk menyelamatkan masa depan lingkungan.

Memang tidak terelakkan kenyataan masyarakat modern dan terutama masyarakat Jakarta, yang lebih menghargai nilai-nilai material daripada nilai spiritual. Artinya, mereka yang menguasai sumber-sumber ekonomi lebih tinggi status sosialnya, dan mereka yang memiliki akses pada kekuasaan (politik) adalah yang lebih besar pengaruhnya di masyarakat. Namun tidak berarti komunitas yang didominasi nilai spiritual atau yang besar perhatiannya pada masalah-masalah spiritual, semakin kecil atau terpinggirkan. Tidak ada bukti bahwa keyakinan-keyakinan dan atribut keagamaan lokal, masyarakat Jakarta, telah terdegradasi. Kepercayaan-kepercayaan atau ideologi lokal, tetap tidak bergeming, dan tetap bertahan hingga kini. Fenomena kota Jakarta tak hanya dipenuhi gedung-gedung bertingkat dan prasarana transportasi modern, tetapi juga oleh berkembangnya rumah-rumah ibadah berikut aktivitas, dan berkembangnya kelompok-kelompok keagamaan.

Di tengah pergeseran dan loncatan gaya hidup global itu, program PKM menjadi semakin penting. PKM tidak hanya berfungsi mengendalikan kebebasan dalam merespon budaya global, tetapi lebih memerankan diri sebagai sumber kreativitas dan pengembangan potensi dakwah. Secara metodologis, dakwah masa kini dan masa depan membutuhkan kreativitas dan atau variasi. Ada trik di tengah trend, ada kiat di tengah persaingan, dan ada variasi di tengah keragaman karena masyarakat yang dihadapi semakin dinamis, dan progresif.

PKM juga dituntut untuk tidak menyerah pada gelombang meterialisme. Pengkaderan dakwah kalangan muda bisa bersifat entertain, agar mampu bersaing dangan dunia hiburan, atau setidaknya dapat menjadi pilihan di antara banyak pilihan yang menyejukkan dunia anak muda. Mereka yang menjadi pelaku pornografi atau yang menjadi korban narkoba, jumlahnya sudah terlalu banyak. Pelaku perkelahian pelajar, juga siapa lagi kalau bukan golongan anak-anak muda. Di sinilah tantangan para juru dakwah kini dan mendatang. (ed. Latif)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *